Jumat, 29 Maret 2013
Jumat, 06 Agustus 2010
BUDIDAYA IKAN LELE
Bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam ikan lele memijah pada musim penghujan.
1. PERSYARATAN LOKASI
1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos, berlumpur dan subur. Lahan yang dapat digunakan untuk budidaya lele dapat berupa: sawah, kecomberan, kolam pekarangan, kolamkebun, dan blumbang.
2) Ikan lele hidup dengan baik di daerah dataran rendah sampai daerah yang tingginya maksimal 700 m dpl.
3) Elevasi tanah dari permukaan sumber air dan kolam adalah 5-10%.
4) Lokasi untuk pembuatan kolam harus berhubungan langsung atau dekat dengan sumber air dan tidak dekat dengan jalan raya.
5) Lokasi untuk pembuatan kolam hendaknya di tempat yang teduh, tetapi tidak berada di bawah pohon yang daunnya mudah rontok.
6) Ikan lele dapat hidup pada suhu 200 C, dengan suhu optimal antara 25-280 C. Sedangkan untuk pertumbuhan larva diperlukan kisaran suhu antara 26-300C dan untuk pemijahan 24-280 C.
7) Ikan lele dapat hidup dalam perairan agak tenang dan kedalamannya cukup, sekalipun kondisi airnya jelek, keruh, kotor dan miskin zat O2.
8) Perairan tidak boleh tercemar oleh bahan kimia, limbah industri, merkuri, atau mengandung kadar minyak atau bahan lainnya yang dapat mematikan ikan.
9) Perairan yang banyak mengandung zat-zat yang dibutuhkan ikan dan bahan makanan alami. Perairan tersebut bukan perairan yang rawan banjir.
10) Permukaan perairan tidak boleh tertutup rapat oleh sampah atau daun-daunan hidup, seperti enceng gondok.
11) Mempunyai pH 6,5–9; kesadahan (derajat butiran kasar ) maksimal 100 ppm dan optimal 50 ppm; turbidity (kekeruhan) bukan lumpur antara 30–60 cm; kebutuhan O2 optimal pada range yang cukup lebar, dari 0,3 ppm untuk yang dewasa sampai jenuh untuk burayak; dan kandungan CO2 kurang dari 12,8 mg/liter, amonium terikat 147,29-157,56 mg/liter.
12) Persyaratan untuk pemeliharaan ikan lele di keramba :
a. Sungai atau saluran irigasi tidak curam, mudah dikunjungi/dikontrol.
b. Dekat dengan rumah pemeliharaannya.
c. Lebar sungai atau saluran irigasi antara 3-5 meter.
d. Sungai atau saluran irigasi tidak berbatu-batu, sehingga keramba mudah dipasang.
e. Kedalaman air 30-60 cm.
2. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Pada minggu ke 1-6 air harus dalam keadaan jernih kolam, bebas dari pencemaran maupun fitoplankton. Ikan pada usia 7-9 minggu kejernihan airnya harus dipertahankan. Pada minggu 10, air dalam batas-batas tertentu masih diperbolehkan. Kekeruhan menunjukkan kadar bahan padat yang melayang dalam air (plankton). Alat untuk mengukur kekeruhan air disebut secchi.
Prakiraan kekeruhan air berdasarkan usia lele (minggu) sesuai angka secchi :
- Usia 10-15 minggu, angka secchi = 30-50
- Usia 16-19 minggu, angka secchi = 30-40
- Usia 20-24 minggu, angka secchi = 30
2. Penyiapan Bibit
i. Pemilihan Induk
1. Ciri-ciri induk lele jantan:
a. Kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele betina.
b. Warna kulit dada agak tua bila dibanding induk ikan lele betina.
c. Urogenital papilla (kelamin) agak menonjol, memanjang ke arah belakang, terletak di belakang anus, dan warna kemerahan.
d. Gerakannya lincah, tulang kepala pendek dan agak gepeng (depress).
e. Perutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding induk ikan lele betina.
f. Bila bagian perut di stripping secara manual dari perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan putih kental (spermatozoa-mani).
g. Kulit lebih halus dibanding induk ikan lele betina.
2. Ciri-ciri induk lele betina
a. Kepalanya lebih besar dibanding induk lele jantan.
b. Warna kulit dada agak terang.
c. Urogenital papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna kemerahan, lubangnya agak lebar dan terletak di belakang anus.
d. Gerakannya lambat, tulang kepala pendek dan agak cembung.
e. Perutnya lebih gembung dan lunak.
f. Bila bagian perut di stripping secara manual dari bagian perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan kekuning-kuningan (ovum/telur).
3. Syarat induk lele yang baik:
a. Kulitnya lebih kasar dibanding induk lele jantan.
b. Induk lele diambil dari lele yang dipelihara dalam kolam sejak kecil supaya terbiasa hidup di kolam.
c. Berat badannya berkisar antara 100-200 gram, tergantung kesuburan badan dengan ukuran panjang 20-5 cm.
- Bentuk badan simetris, tidak bengkok, tidak cacat, tidak luka, dan lincah.
- Umur induk jantan di atas tujuh bulan, sedangkan induk betina berumur satu tahun.
- Frekuensi pemijahan bisa satu bula sekali, dan sepanjang hidupnya bisa memijah lebih dari 15 kali dengan syarat apabila makanannya mengandung cukup protein.
5. Ciri-ciri induk lele siap memijah adalah calon induk terlihat mulai berpasang-pasangan, kejar-kejaran antara yang jantan dan yang betina. Induk tersebut segera ditangkap dan ditempatkan dalam kolam tersendiri untuk dipijahkan.
6. Perawatan induk lele:
- Selama masa pemijahan dan masa perawatan, induk ikan lele diberi makanan yang berkadar protein tinggi seperti cincangan daging bekicot, larva lalat/belatung, rayap atau makanan buatan (pellet). Ikan lele membutuhkan pellet dengan kadar protein yang relatif tinggi, yaitu 60%. Cacing sutra kurang baik untuk makanan induk lele, karena kandungan lemaknya tinggi. Pemberian cacing sutra harus dihentikan seminggu menjelang perkawinan atau pemijahan.
- Makanan diberikan pagi hari dan sore hari dengan jumlah 5-10% dari berat total ikan.
- Setelah benih berumur seminggu, induk betina dipisahkan, sedangkan induk jantan dibiarkan untuk menjaga anak-anaknya. Induk jantan baru bisa dipindahkan apabila anak-anak lele sudah berumur 2 minggu.
- Segera pisahkan induk-induk yang mulai lemah atau yang terserang penyakit untuk segera diobati.
- Mengatur aliran air masuk yang bersih, walaupun kecepatan aliran tidak perlu deras, cukup 5-6 liter/menit.
b. Pemijahan Tradisional
1. Pemijahan di Kolam Pemijahan
Kolam induk:
- Kolam dapat berupa tanah seluruhnya atau tembok sebagian dengan dasar tanah.
- Luas bervariasi, minimal 50 m2.
- Kolam terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian dangkal (70%) dan bagian dalam (kubangan) 30 % dari luas kolam. Kubangan ada di bagian tengah kolam dengan kedalaman 50-60 cm, berfungsi untuk bersembunyi induk, bila kolam disurutkan airnya.
- Pada sisi-sisi kolam ada sarang peneluran dengan ukuran 30x30x25 cm3, dari tembok yang dasarnya dilengkapi saluran pengeluaran dari pipa paralon diamneter 1 inchi untuk keluarnya banih ke kolam pendederan.
- Setiap sarang peneluran mempunyai satu lubang yang dibuat dari pipa paralon (PVC) ukuran 4 inchi untuk masuknya induk-induk lele.
- Jarak antar sarang peneluran 1 m.
- Kolam dikapur merata, lalu tebarkan pupuk kandang (kotoran ayam) sebanyak 500-750 gram/m2.
- Airi kolam sampai batas kubangan, biarkan selama 4 hari.
Kolam Rotifera (cacing bersel tunggal):
- Letak kolam rotifera di bagian atas dari kolam induk berfungi untuk menumbuhkan makanan alami ikan (rotifera).
- Kolam rotifera dihubungkan ke kolam induk dengan pipa paralon untuk mengalirkan rotifera.
- Kolam rotifera diberi pupuk organik untuk memenuhi persyaratan tumbuhnya rotifera.
- Luas kolam 10 m2.
Pemijahan:
- Siapkan induk lele betina sebanyak 2 x jumlah sarang yang tersedia dan induk jantan sebanyak jumlah sarang; atau satu pasang per sarang; atau satu pasang per 2-4 m2 luas kolam (pilih salah satu).
- Masukkan induk yang terpilih ke kubangan, setelah kubangan diairi selama 4 hari.
- Beri/masukkan makanan yang berprotein tinggi setiap hari seperti cacing, ikan rucah, pellet dan semacamnya, dengan dosis (jumlah berat makanan) 2-3% dari berat total ikan yang ditebarkan .
- Biarkan sampai 10 hari.
- Setelah induk dalam kolam selama 10 hari, air dalam kolam dinaikkan sampai 10-15 cm di atas lubang sarang peneluran atau kedalaman air dalam sarang sekitar 20-25 cm. Biarkan sampai 10 hari. Pada saat ini induk tak perlu diberi makan, dan diharapkan selama 10 hari berikutnya induk telah memijah dan bertelur. Setelah 24 jam, telur telah menetas di sarang, terkumpullah benih lele. Induk lele yang baik bertelur 2-3 bulan satu kali bila makanannya baik dan akan bertelur terus sampai umur 5 tahun.
- Benih lele dikeluarkan dari sarnag ke kolam pendederan dengan cara: air kolam disurutkan sampai batas kubangan, lalu benih dialirkan melalui pipa pengeluaran.
- Benih-benih lele yang sudah dipindahkan ke kolam pendederan diberi makanan secara intensif, ukuran benih 1-2 cm, dengan kepadatan 60 -100 ekor/m2.
- Dari seekor induk lele dapat menghasilkan 2000 ekor benih lele. Pemijahan induk lele biasanya terjadi pada sore hari atau malam hari.
2. Pemijahan di Bak Pemijahan Secara Berpasangan
Penyiapan bak pemijahan secara berpasangan:
- Buat bak dari semen atau teraso dengan ukuran 1 x 1 m atau 1 x 2 m dan tinggi 0,6 m.
- Di dalam bak dilengkapi kotak dari kayu ukuran 25 x 40x30 cm tanpa dasar sebagai sarang pemijahan. Di bagian atas diberi lubang dan diberi tutup untuk melihat adanya telur dalam sarang. Bagian depan kotak/sarang pemijahan diberi enceng gondok supaya kotak menjadi gelap.
- Sarang pemijahan dapat dibuat pula dari tumpukan batu bata atau ember plastik atau barang bekas lain yang memungkinkan.
- Sarang bak pembenihan diberi ijuk dan kerikil untuk menempatkan telur hasil pemijahan.
- Sebelum bak digunakan, bersihkan/cuci dengan air dan bilas dengan formalin 40 % atau KMnO4 (dapat dibeli di apotik); kemudian bilas lagi dengan air bersih dan keringkan.
Pemijahan:
- Tebarkan I (satu) pasang induk dalam satu bak setelah bak diisi air setinggi 25 cm. Sebaiknya airnya mengalir. Penebaran dilakukan pada jam 14.00–16.00.
- Biarkan induk selama 5-10 hari, beri makanan yang intensif. Setelah
10 hari, diharapkan sepasang induk ini telah memijah, bertelur dan dalam waktu 24 jam telur-telur telah menetas. Telur-telur yang baik adalah yang berwarna kuning cerah.
- Beri makanan anak-anak lele yang masih kecil (stadium larva) tersebut berupa kutu air atau anak nyamuk dan setelah agak besar dapat diberi cacing dan telur rebus.
4. Pemijahan di Bak Pemijahan Secara Masal
Penyiapan bak pemijahan secara masal:
- Buat bak dari semen seluas 20 m2 atau 50 m2, ukuran 2x10 m2 atau 5x10 m2.
- Di luar bak, menempel dinding bak dibuat sarang pemijahan ukuran 30x30x30 cm3, yang dilengkapi dengan saluran pengeluaran benih dari paralon (PVC) berdiameter 1 inchi. Setiap sarang dibuatkan satu lubang dari paralon berdiameter 4 inchi.
- Dasar sarang pemijahan diberi ijuk dan kerikil untuk tempat menempel telur hasil pemijahan.
- Sebelum digunakan, bak dikeringkan dan dibilas dengan larutan desinfektan atau formalin, lalu dibilas dengan air bersih; kemudian keringkan.
Pemijahan:
- Tebarkan induk lele yang terpilih (matang telur) dalam bak pembenihan sebanyak 2xjumlah sarang , induk jantan sama banyaknya dengan induk betina atau dapat pula ditebarkan 25-50 pasang untuk bak seluas 50 m2 (5x10 m2), setelah bak pembenihan diairi setinggi 1 m.
- Setelah 10 hari induk dalam bak, surutkan air sampai ketinggian 50-60 cm, induk beri makan secara intensif.
- Sepuluh hari kemudian, air dalam bak dinaikkan sampai di atas lubang sarang sehingga air dalam sarang mencapai ketinggian 20-25 cm.
- Saat air ditinggikan diharapkan induk-induk berpasangan masuk
sarang pemijahan, memijah dan bertelur. Biarkan sampai 10 hari.
- Sepuluh hari kemudian air disurutkan lagi, dan diperkirakan telur-
telur dalam sarang pemijahan telah menetas dan menjadi benih lele.
- Benih lele dikeluarkan melalui saluran pengeluaran benih untuk
didederkan di kolam pendederan.
c. Pemijahan Buatan
Cara ini disebut Induced Breeding atau hypophysasi yakni merangsang ikan lele untuk kawin dengan cara memberikan suntikan berupa cairan hormon ke dalam tubuh ikan. Hormon hipophysa berasal dari kelenjar hipophysa, yaitu hormon gonadotropin. Fungsi hormon gonadotropin:
- Gametogenesis: memacu kematangan telur dan sperma, disebut Follicel Stimulating Hormon. Setelah 12 jam penyuntikan, telur mengalami ovulasi (keluarnya telur dari jaringan ikat indung telur). Selama ovulasi, perut ikan betina akan membengkak sedikit demi sedikit karena ovarium menyerap air. Saat itu merupakan saat yang baik untuk melakukan pengurutan perut (stripping).
- Mendorong nafsu sex (libido)
2) Perlakuan dan Perawatan Bibit
a. Kolam untuk pendederan:
1. Bentuk kolam pada minggu 1-2, lebar 50 cm, panjang 200 cm, dan tinggi 50 cm. Dinding kolam dibuat tegak lurus, halus, dan licin, sehingga apabila bergesekan dengan tubuh benih lele tidak akan melukai. Permukaan lantai agak miring menuju pembuangan air. Kemiringan dibuat beda 3 cm di antara kedua ujung lantai, di mana yang dekat tempat pemasukan air lebih tinggi. Pada lantai dipasang pralon dengan diameter 3-5 cm dan panjang 10 m.
2. Kira-kira 10 cm dari pengeluaran air dipasang saringan yang dijepit dengan 2 bingkai kayu tepat dengan permukaan dalam dinding kolam. Di antara 2 bingkai dipasang selembar kasa nyamuk dari bahan plastik berukuran mess 0,5-0,7 mm, kemudian dipaku.
3. Setiap kolam pendederan dipasang pipa pemasukan dan pipa air untuk mengeringkan kolam. Pipa pengeluaran dihubungkan dengan pipa
plastik yang dapat berfungsi untuk mengatur ketinggian air kolam. Pipa plastik tersebut dikaitkan dengan suatu pengait sebagai gantungan.
4. Minggu ketiga, benih dipindahkan ke kolam pendederan yang lain. Pengambilannya tidak boleh menggunakan jaring, tetapi dengan mengatur ketinggian pipa plastik.
5. Kolam pendederan yang baru berukuran 100 x 200 x 50 cm, dengan bentuk dan konstruksi sama dengan yang sebelumnya.
b. Penjarangan:
1. Penjarangan adalah mengurangi padat penebaran yang dilakukan karena ikan lele berkembang ke arah lebih besar, sehingga volume ratio antara lele dengan kolam tidak seimbang.
- Apabila tidak dilakukan penjarangan dapat mengakibatkan :
- Ikan berdesakan, sehingga tubuhnya akan luka.
- Terjadi perebutan ransum makanan dan suatu saat dapat memicu mumculnya kanibalisme (ikan yang lebih kecil dimakan oleh ikan yang lebih besar).
- Suasana kolam tidak sehat oleh menumpuknya CO2 dan NH3, dan O2 kurang sekali sehingga pertumbuhan ikan lele terhambat.
2. Cara penjarangan pada benih ikan lele :
- Minggu 1-2, kepadatan tebar 5000 ekor/m2
- Minggu 3-4, kepadatan tebar 1125 ekor/m2
- Minggu 5-6, kepadatan tebar 525 ekor/m2
c. Pemberian pakan:
1. Hari pertama sampai ketiga, benih lele mendapat makanan dari kantong kuning telur (yolk sac) yang dibawa sejak menetas.
2. Hari keempat sampai minggu kedua diberi makan zooplankton, yaitu Daphnia dan Artemia yang mempunyai protein 60%. Makanan tersebut diberikan dengan dosis 70% x biomassa setiap hari yang dibagi dalam 4 kali pemberian. Makanan ditebar disekitar tempat pemasukan air. Kira-kira 2-3 hari sebelum pemberian pakan zooplankton berakhir, benih lele harus dikenalkan dengan makanan dalam bentuk tepung yang berkadar protein 50%. Sedikit dari tepung tersebut diberikan kepada benih 10-15 menit sebelum pemberian zooplankton. Makanan yang berupa teoung dapat terbuat dari campuran kuning telur, tepung udang dan sedikit bubur nestum.
3. Minggu ketiga diberi pakan sebanyak 43% x biomassa setiap hari.
4. Minggu keempat dan kelima diberi pakan sebanyak 32% x biomassa setiap hari.
5. Minggu kelima diberi pakan sebanyak 21% x biomassa setiap hari.
6. Minggu ketiga diberi pakan sebanyak 43% x biomassa setiap hari.
7. Minggu keenam sudah bisa dicoba dengan pemberian pelet apung.
d. Pengepakan dan pengangkutan benih
1. Cara tertutup:
- Kantong plastik yang kuat diisi air bersih dan benih dimasukkan sedikit demi sedikit. Udara dalam plastik dikeluarkan. O2 dari tabung dimasukkan ke dalam air sampai volume udara dalam plastik 1/3–1/4 bagian. Ujung plastik segera diikat rapat.
- Plastik berisi benih lele dimasukkan dalam kardus atau peti supaya tidak mudah pecah.
3. Cara terbuka dilakukan bila jarak tidak terlalu jauh:
- Benih lele dilaparkan terlebih dahulu agar selama pengangkutan, air tidak keruh oleh kotoran lele. (Untuk pengangkutan lebih dari 5 jam).
- Tempat lele diisi dengan air bersih, kemudian benih dimasukkan sedikit demi sedikit. Jumlahnya tergantung ukurannya. Benih ukuran
10 cm dapat diangkut dengan kepadatan maksimal 10.000/m3 atau
10 ekor/liter. Setiap 4 jam, seluruh air diganti di tempat yang teduh.
2. Pemeliharaan Pembesaran
3. Pemupukan
- Sebelum digunakan kolam dipupuk dulu. Pemupukan bermaksud untuk menumbuhkan plankton hewani dan nabati yang menjadi makanan alami bagi benih lele.
- Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang (kotoran ayam) dengan dosis 500-700 gram/m2. Dapat pula ditambah urea 15 gram/m2, TSP 20 gram/m2, dan amonium nitrat 15 gram/m2. Selanjutnya dibiarkan selama 3 hari.
- Kolam diisi kembali dengan air segar. Mula-mula 30-50 cm dan dibiarkan selama satu minggu sampai warna air kolam berubah menjadi coklat atau kehijauan yang menunjukkan mulai banyak jasad-jasad renik yang tumbuh sebagai makanan alami lele.
- Secara bertahap ketinggian air ditambah, sebelum benih lele ditebar.
4. Pemberian Pakan
- Makanan Alami Ikan Lele
Makanan alamiah yang berupa Zooplankton, larva, cacing-cacing, dan serangga air.
Makanan berupa fitoplankton adalah Gomphonema spp (gol. Diatome), Anabaena spp (gol. Cyanophyta), Navicula spp (gol. Diatome), ankistrodesmus spp (gol. Chlorophyta).
Ikan lele juga menyukai makanan busuk yang berprotein.
Ikan lele juga menyukai kotoran yang berasal dari kakus.
- Makanan Tambahan
Pemeliharaan di kecomberan dapat diberi makanan tambahan berupa sisa-sisa makanan keluarga, daun kubis, tulang ikan, tulang ayam yang dihancurkan, usus ayam, dan bangkai.
2. Campuran dedak dan ikan rucah (9:1) atau campuran bekatul, jagung, dan bekicot (2:1:1).
c. Makanan Buatan (Pellet)
1. Komposisi bahan (% berat): tepung ikan=27,00; bungkil kacang kedele=20,00; tepung terigu=10,50; bungkil kacang tanah=18,00; tepung kacang hijau=9,00; tepung darah=5,00; dedak=9,00; vitamin=1,00; mineral=0,500;
2. Proses pembuatan:
Dengan cara menghaluskan bahan-bahan, dijadikan adonan seperti pasta, dicetak dan dikeringkan sampai kadar airnya kurang dari 10%. Penambahan lemak dapat diberikan dalam bentuk minyak yang dilumurkan pada pellet sebelum diberikan kepada lele. Lumuran minyak juga dapat memperlambat pellet tenggelam.
3. Cara pemberian pakan:
- Pellet mulai dikenalkan pada ikan lele saat umur 6 minggu dan diberikan pada ikan lele 10-15 menit sebelum pemberian makanan yang berbentuk tepung.
- Pada minggu 7 dan seterusnya sudah dapat langsung diberi makanan yang berbentuk pellet.
- Hindarkan pemberian pakan pada saat terik matahari, karena suhu tinggi dapat mengurangi nafsu makan lele.
3) Pemberian Vaksinasi
Cara-cara vaksinasi sebelum benih ditebarkan:
a. Untuk mencegah penyakit karena bakteri, sebelum ditebarkan, lele yang berumur 2 minggu dimasukkan dulu ke dalam larutan formalin dengan dosis 200 ppm selama 10-15 menit. Setelah divaksinasi lele tersebut akan kebal selama 6 bulan.
b. Pencegahan penyakit karena bakteri juga dapat dilakukan dengan menyutik dengan terramycin 1 cc untuk 1 kg induk.
c. Pencegahan penyakit karena jamur dapat dilakukan dengan merendam lele dalam larutan Malachite Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit.
4) Pemeliharaan Kolam/Tambak
a. Kolam diberi perlakuan pengapuran dengan dosis 25-200 gram/m2 untuk memberantas hama dan bibit penyakit.
b. Air dalam kolam/bak dibersihkan 1 bulan sekali dengan cara mengganti semua air kotor tersebut dengan air bersih yang telah diendapkan 2 malam.
c. Kolam yang telah terjangkiti penyakit harus segera dikeringkan dan dilakukan pengapuran dengan dosis 200 gram/m2 selama satu minggu. Tepung kapur (CaO) ditebarkan merata di dasar kolam, kemudian dibiarkan kering lebih lanjut sampai tanah dasar kolam retak-retak.
4.. HAMA DAN PENYAKIT
1.Hama dan Penyakit
- Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan lele.
- Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang lele antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan gabus dan belut.
- Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak banyak diserang hama.
Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.
1) Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla
Bentuk bakteri ini seperti batang dengan polar flage (cambuk yang terletak di ujung batang), dan cambuk ini digunakan untuk bergerak, berukuran 0,7–0,8 x 1–1,5 mikron. Gejala: iwarna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan, bernafas megap-megap di permukaan air. Pengendalian: memelihara lingkungan perairan agar tetap bersih, termasuk kualitas air. Pengobatan melalui makanan antara lain: (1) Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7–10 hari berturut-turut. (2) Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3–4 hari.
2) Penyakit Tuberculosis
Penyebab: bakteri Mycobacterium fortoitum). Gejala: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip. Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam. Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5–7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5–15 hari.
3) Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia.
Jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah. Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas. Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1–0,2 ppm selama 1 jam atau 5–10 ppm selama 15 menit.
4) Penyakit Bintik Putih dan Gatal/Trichodiniasis
Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis. Gejala: (1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air; (2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang; (3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam. Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya. Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan Formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12–24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari.
5) Penyakit Cacing Trematoda
Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip. Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu. Pengendalian: (1) direndam Formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit; (2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam; (3) mencelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium -Permanganat (KMnO4) 0,01% selama 30 menit; (4) memakai larutan NaCl 2% selama 30 menit; (5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama 10 menit.
6) Parasit Hirudinae
Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan. Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah. Pengendalian: selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.
2.Hama Kolam/Tambak
Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah, misalnya :
1) Bila suhu terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara dan air diganti dengan yang suhunya lebih dingin.
2) Bila pH terlalu rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100 l air.
3) Bila kandungan gas-gas beracun (H2S, CO2), maka air harus segera diganti.
4) Bila makanan kurang, harus ditambah dosis makanannya.
5.. PANEN
1.Penangkapan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan:
1) Lele dipanen pada umur 6-8 bulan, kecuali bila dikehendaki, sewaktu-waktu dapat dipanen. Berat rata-rata pada umur tersebut sekitar 200 gram/ekor.
2) Pada lele Dumbo, pemanenan dapat dilakukan pada masa pemeliharaan 3-4 bulan dengan berat 200-300 gram per ekornya. Apabila waktu pemeliharaan ditambah 5-6 bulan akan mencapai berat 1-2 kg dengan panjang 60-70 cm.
3) Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari supaya lele tidak terlalu kepanasan.
4) Kolam dikeringkan sebagian saja dan ikan ditangkap dengan menggunakan seser halus, tangan, lambit, tangguh atau jaring.
5) Bila penangkapan menggunakan pancing, biarkan lele lapar lebih dahulu.
6) Bila penangkapan menggunakan jaring, pemanenan dilakukan bersamaan dengan pemberian pakan, sehingga lele mudah ditangkap.
7) Setelah dipanen, piaralah dulu lele tersebut di dalam tong/bak/hapa selama 1-2 hari tanpa diberi makan agar bau tanah dan bau amisnya hilang.
8) Lakukanlah penimbangan secepat mungkin dan cukup satu kali.
2.Pembersihan
Setelah ikan lele dipanen, kolam harus dibersihkan dengan cara:
9) Kolam dibersihkan dengan cara menyiramkan/memasukkan larutan kapur sebanyak 20-200 gram/m2 pada dinding kolam sampai rata.
10) Penyiraman dilanjutkan dengan larutan formalin 40% atau larutan permanganat kalikus (PK) dengan cara yang sama.
11) Kolam dibilas dengan air bersih dan dipanaskan atau dikeringkan dengan sinar matahari langsung. Hal ini dilakukan untuk membunuh penyakit yang ada di kolam.
6.PASCAPANEN
1) Setelah dipanen, lele dibersihkan dari lumpur dan isi perutnya. Sebelum dibersihkan sebaiknya lele dimatikan terlebih dulu dengan memukul kepalanya memakai muntu atau kayu.
2) Saat mengeluarkan kotoran, jangan sampai memecahkan empedu, karena dapat menyebabkan daging terasa pahit.
3) Setelah isi perut dikeluarkan, ikan lele dapat dimanfaatkan untuk berbagai ragam masakan.
Selengkapnya...
BUDIDAYA SAWI
PENYEDIAAN TANAH
Tanah perlu dibajak dan digembur sedalam 15-20cm. Kemudian batas yang berukuran 1.2m lebar, 7.5m panjang dan 20-30 cm tinggi disediakan.
PENANAMAN
Biji benih sawi boleh ditanam terus ke atas batas. Sebanyak 1.5kg biji benih digunakan untuk sehektar. Sebelum menanam, biji benih dirawat dengan racun kulat thiram dan digaulkan denagn pasir halus atau tanah peroi dan di tabur sama rata ke dalam jalur-jalur pada batas. Selepas 10-14 hari, penjarangan di buat mengikut ukuran yang disyorkan, iaitu 20cm antara baris (alur) dan 10cm antara pokok.
PEMBAJAAN
Bagi tanah mineral, baja organan digaulkan ke dalam batas untuk menentukan kesuburan pokok. Pembajaan yang disyorkan adalah seperti berikut:-
Pusingan Masa Jenis Baja Kadar/Batas Kadar/hektar
1 Sebelum menanam Baja Organan 6 kg 4 tan
2 2 minggu NPK 15:15:15 0.4 kg 0.25 tan
3 3 minggu NPK 15:15:15 0.4 kg 0.25 tan
PENGUTIPAN HASIL
Daun sawi boleh dikutip 28-30 hari selepas menyemai. Sayur ini dipungut dengan memotong pada paras tanah. Hasilnya boleh juga dipungut apabila pokok mengeluarkan bunga. Pengeluaran hasil adalah di antara 10-16 tan/ha. dan hasil purata ialah 14 tan/ha.
PENGAIRAN
Sawi memerlukan air yang banyak untuk tumbesarannya. Penyiraman air dua kali sehari dalam musim panas, secara manual atau sistem pengairan renjis adalah disyorkan.
KAWALAN RUMPAI
Kawalan rumpai dilakukan secara manual dilakukan dua kali sepanjang umur pokok. Racun glifosinate ammonium boleh digunakan di keliling batas dan parit.
KAWALAN SERANGGA DAN PENYAKIT
Di antara serangga dan penyakit utama yang menyerang tanaman sawi ialah:
Jenis Serangga / Penyakit Kawalan
Ulat Ratus (Army Worm) ( Spodoptera litura) Sembur racun fenvalerate
Kumbang Kutu ( Phyliotera sinuata Ateph) Sembur racun malathion
Ulat Pangkas (Cut Worm) ( Agrotis xpsilon) Sembur racun fenvalerate
Ulat Plutela (Pluttel xylostella) Sembur racun Bacillus thuringiensis. Amalkan tanaman giliran.
Reput Lembut ( Erwina carotovora) Rawat biji benih dengan thiram. Amalkan tanaman giliran dan saliran yang
baik.
Bintik Daun( Leaf spot) (Cercospora spp.) Rawat biji benih dengan thiram.
Reput Daun ( Leaf Rot) (Corticum solani) Cabut dan buang pokok yang berpenyakit.
Selengkapnya...
BUDI DAYA BAYAM CABUT
Bayam cabut merupakan salah satu jenis bayam yang cocok untuk dibudidayakan.Pertimbangannya karena tidak banyak menuntut persyaratan tumbuh yang sulit, mudah di tanam, dan cepat tumbuh walau tanpa pemeliharaan yang serius. Selain itu , dalam waktu singkat, tanaman sudah dapat di panen.Bayam ini sangat di gemari oleh masyarakat sehingga tidak sulit dalam memasarkannya. Oleh karena itu, bila di usahakan secara besar- besaran akan mendatangkan ke untungan yang tidak sedikit.
1. 1. Syarat tumbuh tanaman bayam
Untuk memperoleh hasil yang berkualitas tinggi, suatu usaha tani perlu memperhatikan syarat tumbuh tanaman yang akan mendukung pertumbuhan dan hasilnya. Syarat tumbuh yang utama berhubungan dengan lingkungan, seperti tanah dan iklim. Faktor lingkungan ini hampir tidak dapat di ubah oleh manusia. Oleh karena itu, agar hasil yang di kehendaki dapat tercapai perlu memperhitungkan keadaan lingkungan bagi pertumbuhan tanaman.Tanaman bayam tidak menuntut persyaratan tumbuh yang sulit, asalakan kondisi tanah subur, penyiraman teratur, dan saluran drainase lancar. Tanaman bayam sangat toleran terhadap keadaan yang tidak menguntungkan sekalipun.
• Tanah
Tanaman bayam tidak memilih jenis tanah tertentu. Akan tetapi, untuk pertumbuhan yang baik memerlukan tanah yang subur dan bertekstur gembur serta banyak mengandung bahan organik. Pada tanah yang tandus atau liat, bayam masih dapat tumbuh dengan baik jika di lakukan penambahan bahan organic yang cukup banyak.Kisaran derajat keasaman (pH) tanah yang baik bagi pertumbuhan bayam antara 6-7. Pada tanah yang ber-pH di atas atau di bawah kisaran tersebut, tanaman bayam sukar tumbuh. Tanaman akan menunjukkan pertumbuhan yang merana bila pH tanah di bawah 6. Begitu pula pada pH di atas 7, tanaman akan mengalami gejala klorosis (warna daun menjadi putih kekuning-kuningan terutama pada daun- daun yang masih muda). Jenis bayam tertentu masih dapat tumbuh pada tanah- tanah alkaline (basah).Pada umumnya orang menanam bayam di tanah kering, misalnya di atas tanah tegalan, ladang, dan pekarangan.jarang sekali bayam di tanam di sawah atau ngarai.
• Iklim
Faktor-faktor iklim yang mempengaruhi tumbuhan dan hasil tanaman antara lain ketinggian tempat,sinar matahari, suhu, dan kelembapan.Tanaman bayam sangat toleran terhadap besarnya perubahan keadaan iklim.bayam banyak di tanam di dataran rendah hingga menengah,terutama pada ketinggian antara 5-2000m dari atas permukaan laut(dpl).Kebutuhan sinar matahari untuk tanaman bayam adalah tinggi, bekisar 400-800 footcandles yang akan mempengaruhi pertumbuhan optimum dengan suhu rata-rata 20-30 C, curah hujan antara 1000-2000 mm,dan kelembapan di atas 60%. Oleh karena itu, bayam tumbuh baik apabila di tanam di lahan terbuka dengan sinar matahari penuh atau berawan dan tidak tergenang air (becek). Waktu yang baik untuk menanam adalah awal musim hujan (bulan oktober/november ) dan awal musim kemarau(bulan april/maret) karena pada waktu tersebut kebutuhan air untuk tanaman dapat terpenuhi secara alami.Seandainya akan menanam bayam di luar waktu tersebut maka kita harus menyediakan sumber air yang dapat memenuhi kebutuhannya.Pada musim hujan ,tanaman bayam masih dapat tumbuh dengan baik asalkan tanahnya tidak tergenang. Oleh karna itu, drainase tanah harus di perhatikan meskipun tanaman bayam tahan terhadap air hujan. Untuk itu, bedengan di buat lebih tinggi di banding penanaman di musim kemarau, yaitu setinggi 35 cm. sebaliknya pada musim kemarau. Penyiraman harus di lakukun secara teratur.
2. Benih
Salah satu faktor penting yang menentukan tinggi/rendahnya hasil adalah penggunaan benih bermutu dari farietas unggul. Perbanyakan tanaman bayam di lakukan dengan cara generatif (biji). Biji tanaman bayam sangat ringan sehingga mudah terbawa oleh angin dan air yang akhirnya akan tumbuh di mana saja.Biji/benih dapat di peroleh di toko sarana pertanian atau dari hasil pembibitan tanaman itu sendiri.
• Membeli benih
Bagi yang pertama kali menanam bayam untuk memperoleh benih, tentu harus membelinya. Sekarang sudah banyak benih bayam dijual di toko sarana pertanian , seperti varietas giti merah, giti hijau,dan sebagainya. Benih bayam cabut banyak dijual dalam kemasan kaleng, botol, atau dalam pembungkus alumunium foil. Harganya pun bervariasi dari yang murah sampai yang mahal. Harga bayam import lebih mahal jika di bandingkan dengan bayam lokal karena kualitas yang lebih baik dan biaya pengiriman yang mahal. Dalam membeli benih bayam harus di perhatikan segel atau bahan penutup kemasan tersebut. Hal ini untuk mencegah terjadinya pemalsuan dan penurunan mutu benih tersebut. Selain itu, kemasan harus mencantumkan keterangan-keterangan yang berhubungan dengan benih tersebut, seperti tanggal kadaluarsa, jenis/varietas tanaman , berat bersih, tanggal lulus pengujian , nama dan alamat produsen benih . tanggal pengujian pada kemasan menunjukkan bahwa tanggal tersebut,benih akan mengalami penurunan daya kecambahnya.
• Memperoleh benih dari hasil pembibitan tanaman
Mamperoleh benih dan tanaman bayam itu sendiri merupakan cara yang termudah dan murah. Tanaman yang di pilih sebagai benih haruslah tanaman yang tumbuhnya sehat , kuat, bermutu dan memiliki daya tahan terhadap hama dan penyakit. Benih bayam diperoleh dengan membiarkan beberapa tanaman tumbuh sampai berbunga dan menghasilkan benih/biji. Biji di ambil dari butir-butir buah yang sehat pada tandan yang sudah tua benar. Cirinya, kulit biji sudah berwarna hitam. Biji di ambil dengan cara memotong tangkai tandan bunga denga hati-hati agar biji tidak rontok. Butir-butir tersebut di jemur selama 12 jam di atas Koran pada tempat yang cukup mendapat sinar matahari. Kemudian tandan di remas –remas/di rontokan dengan cara digepyok agar seluruh biji terlepas. Selanjutnya di bersihkan dengan menggunakan tampi untuk memisahkan biji dari sisa butiran. Benih bayam mempunyai daya simpan cukup lama. Benih yang berasal dari tanaman yang berumur kira-kira 3 bulan mempunyai daya simpan 1 tahun. Benih dari tanaman yang masih muda, mempunyai daya simpan yang tidak lama dan daya mutunya pun cepat menurun. Biji-biji yang telah dirontokkan di simpan dalam kaleng/botol yang bersih dan di tutup rapat serta di letakkan pada tempat yang kering dan sejuk.
3. Pengolahan tanah
Pengolahan tanah memegang peranan penting dalam budi daya bayam cabut. Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki kondisi fisik tanah agar tanah lebih gembur dan longgar. Kegiatan pengolahan tanah di lakukan 1-2 minggu sebelum tanam. Kegiatannya terdiri dari penggemburan,pembuatan bedengan dan parit.
• Penggemburan
Bayam cabut memerlukan tanah yang gembur dan cukup longgar untuk memudahkan akar tanaman tumbuh dengan baik dan memudahkan pencabutan saat panen. Oleh karena itu, sebelum penanaman, tanah harus di gemburkan terlebih dahulu dengan mengunakan garpu tanah atau cangkul.Selain itu, tanah di bersihkan dari rumput dan qulma, sisa-sisa akar tanaman lain ,batu-batuan, dan sebagainya sehingga tidak menggangu pertumbuhan tanaman nantinya. Penggemburan tanah di lakukun dengan cara mencangkul sedalam 20-30 cm.Pencangkulan tidak perlu terlalu dalam karena akar bayam cabut pendek.setelah itu, tanah di haluskan dan di ratakan .Apabila tanah berbongkah-bongkah dapat di campur dengan pasir atau abu.
• Pembuatan bedeng dan parit
Setelah penggemburan selesai , tanah di bentuk alur-alur atau bedengan. Sebaiknya bedengan di buat membujur dari utara ke selatan agar tanaman memperoleh sinar matahari dari timur. Lebar bedengan di buat 100-200 cm dan panjang dapat di sesuaikan dengan keadaan lahannya.Tinggi bedengan 15-30 cm. Bedengan tersebut di beri pupuk organik berupa pupuk kandang sebanyak 10 ton/ha, kemudian di campur dengan rata. Pupuk organic ini berguna untuk memperbaiki sifat fisik dan menjaga kesuburan tanah.Diantara bedengan di buat selokan atau parit selebar 25-30 cm sedalam kira-kira 30 cm.Parit ini untuk memudahkan kegiatan pemanenan, pemeliharaan,dan pengaturan drainase. Bedengan di biarkan terlebih dahulu selama 2-4 hari dengan maksud mengurangi kemasaman tanah, membuat tanah menjadi gembur, mematikan biji/sisa rumput, dan mengetahui apakah tanah bedengan turun atau tidak.
4. Penanaman
• Waktu tanam
Tanaman bayam dapat tumbuh sepanjang musim. Namun, waktu tanam yang baik untuk bayam cabut adalah awal musim hujan dan awal musim kemarau. Pada awal musim hujan, kira- kira bulan oktober/ November, bayam cocok di tanam karena pada saat itu, hama dan penyakit tanaman belum banyak menyerang. Pada awal musim kemarau(maret/ april), bayam dapat juga di tanam karena setelah musim ahir hujan masih tersedia air yang cukup sehingga benih bayam dapat tumbuh dengan cepat. Namun, setelah itu penyiraman harus di lakukan sesering mngkin bila matahari sangat terik.
• Cara tanam
Benih bayam cabut di sebar secara langsung di atas bedengan yang sudah di siapkan. Kebutuhan benih untuk 1- ha yaitu 5-10 kg biji bayam atau sekitar 0,5-1,0 g/m lahan. Sebaiknya benih direndam terlebih dahulu selama 12-24 jam untuk mempercepat proses perkecembahan benih. Kemudian benih di tiriskan. Untuk memudahkan saat penyebaran dan benih tidak saling bertumpuk, sebelum tanam benih di campur dengan abu dapur atau pasir halus dengan perbandingan 1: 10.Benih di sebar langsung dalam barisan dengan cara antar barisan 20 cm agar benih tidak terlalu rapat dan lebih teratur serta memudahkan penjarangan. Dengan demikian, dalam setiap bedengan di peroleh 5 barisan.Benih di tanam pada ke dalaman 1-2 cm dan ditutup kembali dengan tanah tipis- tipis. Untuk menjaga kelembapan tanah, lakukan penyiraman secara hati- hati agar benih tidak berantakan. Gunakan gembor yang siramannya halus. Bila tanah telah lembab, penyiraman tidak perlu di lakukan. Benih akan mulai berkecambah setelah 5-7 hari bila persyaratan tumbuhnya terpenuhi. Untuk melindungi benih dari hujan deras dan hanyut bersama air maka benih di tutup dengan mulsa jerami atau daun pisang. Jika tanaman sudah berkecambah dan cukup kuat, mulsa dapat di angkat dari bedengan.
Secara umum, cara penanaman bayam cabut di sajikan dalam langkah- langkah sebagai berikut.
a) Lahan di bersihkan dari sisa akar tanaman lain dan gulma. Kemudian tanah di cangkul sedalam 20-30 cm agar tanah lebih gembur. Lahan di bentuk menjadi bedengan-bedengan dengan lebar 100 cm. di antara bedengan di buat parit dengan lebar 25-30 cm dan kedalaman 30 cm.
b) Tanah di haluskan dan di beri pupuk kandang.
c) Benih di sebar dalam barisan dengan jarak 15-20 cm, sekaligus di lakukan pemberian pupuk dasar berupa 50 kg TSP dan 40 KCI.
5. Pemeliharaan
Tanaman bayam tidak membutuhkan pemeliharaan yang sulit dan banyak, seperti tanaman lain. Akan tetapi, agar tanaman tumbuh subur dan mendapatkan hasil yang maksimal maka pemeliharaan seperti pemupukan, penyiraman, penyiangan, dan pendangiran tetap di lakukan.
• pemupukan
Salah satu usaha untuk meningkatkan hasil dan kualitas tanaman bayam melalui pemupukan, baik berupa pupuk organik maupun pupuk anorganik. Pupuk organik merupakan pupuk alami yang berasal dari kotoran hewan, kompos atau sisa- sisa tanaman hijau, seperti tanaman kacang- kacangan (tanaman legung). Sedangkan pupuk anorganik merupakan pupuk kimia, seperti Urea (unsure nitroget), TSP (unsure iosfor). Dan KCI (unsure kalsium). Pupuk anorganik cepat dan tersedia sehingga dapat langsung di serap oleh tanaman. Pupuk anorganik yang paling banyak di butuhkan untuk tanaman bayam adalah pupuk nitrogen (N). nitrogen merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan dan hasil tanaman bayam karena hasil utama daun adalah daunnya. Jenis pupuk nitrogen yang umum di gunakan yaitu urea.Kekurangan unsure nitrogen menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, kerdil, warna daun menjadi hijau kekuningan sampai menguning seluruhnya, dan pada ahirnya mongering di mulai dari bagian bawah terus ke bagian atas. Sebaliknya, kelebihan unsure N, tanaman menjadi cepat roboh, pertumbuhan cepat, warna daun menjadi lebih hijau, pembentukan serat terbatas, batang sedikit mengandung air dan mudah terserang penyakit. Dosis pupuk untuk tanaman bayam tiap hektarnya yaitu 100 kg urea, 50 kg TSP, 40 kg KCI. Pupuk TSP dan KCI di berikan bersamaan dengan penanaman sebagai pupuk dasar. Pupk urea sebagi pupk pupuk susulan di berikan setelah tanaman berumur 7-10 hari atau setelah tanaman tumbuh setinggi 5 cm. pupuk urea di berikan lagi pada saat tanaman berumur 3 minggu (pada saat panen pertama), kemudian di berikan seminggu sekali. Tujuannya agar urea yang hilang karena terangkut pada saat panen dapat tersedia kembali bagi tanaman sehingga dapat mempercepat pertumbuhan bayam yang masih muda.Pemberian pupuk urea dapat di lakukan dengan cara di benamkan atau disiram. Pupuk di banamkan ke dalam tanah di antara barisan tanaman dengan jarak 5 cm. bila pemberian pupk di lakukan dengan cara di siram, pupuk di larutkan terlebih dahulu dengan perbandingan 10-20 g/ 10 L air. Larutan ini disiramkan di antara barisan tanaman sejauh 5 cm dengan menggunakan gembor. Pemupukan urea, sebaiknya di lakukan secara bertahap. Hal ini untuk mencegah hilangnya pupuk nitrogen karena tercuci, menguap, terikat unsure lain dalam tanah dan terangkut bersama proses pemanenan.oleh karena itu, pada saat musim hujan pemberian pupuk nitrogen dengan cara di benamkan agar lebih efektif agar tidak mudah terhanyut oleh air.
• Pengairan
Pengairan merupakan syarat mutlak keberhasilan usaha tani tanaman bayam. Tanaman bayam tidak menyukai keadaan tanah yang becek dan tergenang. Hal ini akan menyebabkan kondisi tanah menjadi lembab sehingga akan merang sang tumbuhnya cendawan yang akan menyababkan akar menjadi busuk. Selain itu, sirkulasi udara dalam tanah menjadi kurang baik. Pada musim hujan, penyiraman dapat di tiadakan karana kebutuhan air telah terpenuhi melalui air hujan. Namun, saluran drainase harus tetep terjaga agar air tidak menggenangi areal pertanaman. Penyiraman pada musim hujan di lakukan jika tanah terlihat kering dan hujan belum juga turun. Pada musim kemarau, penyiraman di lakukan secara itensif dua kali sehari, terutama bila keadaan sedang panas terik. Waktu penyiraman yang baik di lakukan pagi atau sore hari. Alat yang di gunakan untuk penyiraman yaitu gembor atau embrat yang siraman airnya lebih merata sehingga tidak merusak tanaman, terutama terhadap biji dan tanaman muda. Penyiraman dapat juga di lakukan dengan mengalirkan air ke parit-parit drainase yang terdapat di antara bendengan.
• Penyiangan
Salah satu gulma yang bisa tumbuh di pertanaman bayam adalah gulma gelang (portulaca oleraceae L). kehadirannya akan menghambat pertumbuhan dan hasil tanaman karena marupakan pesaing dalam memperoleh sinar matahari, air, ruang hidup, dan unsure hara. Persaingan akan lebih besar jika kerapatan populasi gulma lebih padat. Penyiangan dilakukan dua minggu sekali, atau tergantung pada banyaknya gulma yang tumbuh. Penyiangan cukup di lakukan pencabutan gulma secara manual dengan menggunakan tangan atau secara mekanik dengan manggunakan aritatau koret. Cara mekanik di lakukan bila gulma sulit di cabut. Perlakukan secara mekanik harus di lakukan secara hati-hati agar tidak mengganggu perakaran tanaman.
• Penjarangan
Penjarangan tanaman bayam cabut identik dengan perlakuan panen. Penjarangan bertujuan untuk mengurangi terjadinya persaingan antar tanaman. Pertumbuhan tanaman yang terlalu rapat akan menyebabkan terjadinya persaingan ruang hidup,unsure hara, sinar matahari, dan air sehingga tanaman akan tumbuh kurang subur dan tampak kurus. Penjarangan pertama dilakukan setelah tanaman berumur 40 hari dan merupakan panen pertama. Selanjutnya penjarangan di lakukan setiap seminggu 2 kali.
6. System panen rutin
Pasar untuk bayam selalu terbuka sepanjang tahun karena kebutuhan akan sayuran ini tetap tinggi dan relative stabil. Hal ini memberikan peluang bagi petanu bayam untuk memasok sayurannya secara terus menerus tanpa tergantung pada musim.Kiat yang da[at di lakukan petani dalam menyiasati kebutuhan pasar, yaitu dengan melakukan pengaturan waktu tanam bayam cabut dalam satu luasan secara bertahap sehingga panen dapat di lakukan secara terus menerus. Setelah satu bedengan habis di panen. Petani akan langsung dapat memanen bayam dari bedengan yang lain. Langkah pertama yang perlu di jalankan untuk penanaman bertahap ini adalah membuat jadwal penanaman. Jadwal tersebut meliputi penentuan selang waktu penanaman dan jumlah bedengan yang akan di Tanami dalam sekali pemanenan.Sebagi pertimbangan adalah volume produksi yang ingin di capai dalam sekali panen dan umur produktif tanaman. Bayam cabut dapat di panen setelah tanaman berumur 21 hari dan penanaman dalam satu bedengan, berukuran 1,5 m x 5 m dapat menghasilkan daun bayam segar sebanyak kurang lebih 10 kg yang dapat di ambil dalam 3 kali pemanenan.Mengingat pemenenan bayam dalam satu bedengan membutuhkan waktu satu minggu, maka waktu penanaman antar bedengan di tentukan dengan selang satu minggu pula. Jumlah bedengan untuk sekali penanaman bergantung pada volume.
Selengkapnya...
BUDIDAYA Kangkung
1.3. Jenis Tanaman
Kangkung merupakan tanaman yang tumbuh cepat yang memberikan hasil dalam waktu 4-6 minggu sejak dari benih.
Kebiasaan berbiji.
Kangkung darat lebih banyak berbiji dari pada kangkung air. Itu sebabnya kangkung darat diperbanyak lewat biji, sedangkan kangkung air dengan stek pucuk batang.
, mengandung vitamin A, B dan vitamin C serta bahan-bahan mineral terutama zat besi yang berguna bagi pertumbuhan badan dan kesehatan.
untuk penyembuh penyakit "sembelit" juga sebagai obat yang sedang "diet". Selain itu, akar kangkung berguna untuk obat penyakit "wasir"
II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
Tanaman kangkung membutuhkan lahan yang terbuka atau mendapat sinar matahari yang cukup. Di tempat yang terlindung (ternaungi) tanaman kangkung akan tumbuh memanjang (tinggi) tetapi kurus-kurus. Kangkung sangat kuat menghadapi panas terik dan kemarau yang panjang. Apabila ditanam di tempat yang agak terlindung, maka kualitas daun bagus dan lemas sehingga disukai konsumen.
Suhu udara dipengaruhi oleh ketinggian tempat, setiap naik 100 m tinggi tempat, maka temperatur udara turun 1 derajat C. Apabila kangkung ditanam di tempat yang terlalu panas, maka batang dan daunnya menjadi agak keras, sehingga tidak disukai konsumen.
2.2. Media Tanam
Tanaman kangkung darat tidak menghendaki tanah yang tergenang, karena akar akan mudah membusuk. Sedangkan kangkung air membutuhkan tanah yang selalu tergenang air.
2.3. Ketinggian Tempat
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Persyaratan Bibit Kangkung Darat
Bibit kangkung sebaiknya berasal dari kangkung muda, berukuran 20 -30 cm. Pemilihan bibit harus memperhatikan hal-hal seperti berikut, batang besar, tua, daun besar dan bagus. Penanamannya dengan cara stek batang, kemudian ditancapkan di tanah. Sedangkan biji untuk bibit harus diambil dari tanaman tua dan dipilih yang kering serta berkualitas baik.
3.1.2. Penyiapan Benih
a) Benih kangkung yang akan ditanam adalah stek muda, berukuran 20-30 cm, dengan jarak tanam 1,5 x 15 cm.
b) Untuk benih dari biji kangkung diambil dari tanaman yang tua.
c) Benih yang diperlukan untuk seluas 10 m2 atau 2 bedengan ± 300 gram, jika tiap lubang diisi 2-3 butir biji.
3.1.3. Teknik Penyemaian Benih
Biji dengan ukuran diameter 3 mm, disebar dalam baris-baris berjarak 15 cm dengan jarak kira-kira 5 cm antara masing-masing biji. Kultivar yang berbiji dapat tahan tanah lembab dan tumbuh baik dalam musim hujan.
3.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1. Persiapan
kangkung memerlukan tanah yang diberi pupuk kompos, kemudian dibuatkan petak-petak/bedengan seperti tanaman sayuran lain. Tentang panjang bedengan, tergantung kondisi lahan. Kemudian siapkan tugal dan tancapkan di atas bedengan dengan jarak 20 x 20 cm.
3.2.2. Pembukaan Lahan
Tiga minggu sebelum melakukan penanaman kangkung, sebaiknya tanah diolah terlebih dahulu. Kemudian tanah dicampur dengan pupuk kompos atau pupuk kandang sebanyak 10 ton per hektar, diberi air dengan ketinggian 5 cm, dibiarkan tergenang air dan diberi urea 1 kuintal per hektar
3.2.3. Pembentukan Bedengan
Pembentukan bedengan untuk tanaman kangkung dapat dilakukan dengan ukuran lebar 0,8-1,2 m, panjang 3-5 m, dalam ± 15-20 cm dan jarak antar bedeng 50 cm dengan membuat selokan. Ukuran tersebut dapat disesuaikan, tergantung keadaan lahan yang tersedia. Bedengan dibuat untuk kelancaran pemasukan dan pembuangan air yang berlebih serta untuk memudahkan pemeliharaan dan kegiatan lain. Ada pula yang membuat bedengan dengan ukuran panjang kali lebar: 2x1 m dengan kedalaman drainase 30x30 cm.
3.2.4. Pemupukan
Pemupukan bagi tanaman kangkung terdiri dari pupuk dasar yaitu pupuk kandang, yang diberikan seminggu sebelum tanam (setelah selesai pembuatan bedengan). Selain itu juga diberikan pupuk urea, seminggu setelah tanam, kemudian 2 minggu setelah tanam. Pemberian pupuk urea dicampur dengan air kemudian disiram pada pangkal tanaman dengan ember penyiram.
Pada waktu melakukan pemupukan, lahan dikeringkan terlebih dahulu selama 4 sampai 5 hari. Kemudian diairi kembali.
Pupuk yang diperlukan adalah sebagai berikut: 10-20 ton/ha rabuk organik dan 100-250 kg/ha urea, diberikan selama 2 minggu pertama, dengan cara disiramkan.
3.2.5. Lain-lain
Agar tanaman kangkung dapat berproduksi secara memuaskan, perlu dilakukan pergiliran tanaman dengan tanaman kacang tanah, kacang hijau, kacang buncis, kecipir atau ketimun.
3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Penentuan Pola Tanam
Penentuan pola tanam dapat disesuaikan dengan luas lahan yang akan ditanami. Apabila bedengan dibuat dengan ukuran 2x1 m, maka bila jarak tanamnya ditentukan 20x20 cm, maka dalam satu bedengan terdapat sebanyak 50 lubang atau 50 rumpun kangkung.
3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam
Pembuatan lubang tanam dapat dilakukan dengan cara ditugal, yang berjarak 20x20 cm, sedalam ± 5 cm. Setiap bedengan dapat ditentukan jumlah lubangnya (tergantung ukuran bedengan).
3.3.3. Cara Penanaman
Penanaman kangkung darat dilakukan pada sore hari yaitu jam 16.00 sampai 18.00. Hal ini bertujuan agar benih setelah ditanam tidak langsung mendapat udara kering sehingga benih cepat berkecambah.
3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penjarangan dan Penyulaman
Bila tanaman kangkung terlalu lebat/sangat berdesakan dalam satu rumpun maka diperlukan penjarangan. Apabila tanaman banyak yang mati, maka segera dilakukan penyulaman (diganti dengan bibit yang baru yang telah disiapkan).
3.4.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan bila terdapat rumput liar (tanaman pengganggu). Penyiangan dilakukan setiap 2 minggu.
3.4.3. Pembubunan
Pembumbunan dilakukan untuk mendekatkan unsur hara bagi tanaman kangkung sehingga dapat mempermudah akar tanaman untuk mentransfernya. Pembumbunan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 minggu.
3.4.4. Perempalan
Bagi tanaman kangkung sebagai penghasil daun dan batang, perempalan tidak dibutuhkan, sebab perempalan adalah penyortiran dan pengambilan tunas-tunas muda yang tidak berguna, yang akan menghambat pertumbuhan tanaman.
3.4.5. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk urea. Pupuk urea diberikan hanya sekali dengan cara dilarutkan dalam air lalu disiram pada tanaman kangkung. Perlu diperhatikan agar pada waktu menebar pupuk jangan sampai ada butir pupuk yang tersangkut atau menempel pada daun, sebab akan menyebabkan daun menjadi layu. Gunakan sapu lidi setiap selesai menabur pupuk.
3.4.6. Pengairan dan Penyiraman
Selama tidak ada hujan, perlu dilakukan penyiraman. Penyiraman gunanya untuk mencegah tanaman kangkung terhadap kekeringan. Penyiraman dilakukan dua kali sehari yaitu pagi (jam 07.00) dan sore (jam 17.00). Penyiraman dilakukan dengan gembor penyiram. Tanaman kangkung membutuhkan banyak air dalam pertumbuhannya.
3.4.7. Waktu Penyemprotan Pestisida
Tanaman kangkung darat yang terkena ulat berwarna putih yang berada pada helai daun sebelah bawah sehingga menyebabkan warna daun menjadi kuning. Untuk penanggulangannya disemprotkan Baysudin dengan dosis 2 cc per liter air, yang disemprotkan sore hari.
Untuk memberantas ulat daun yang sering menyerang tanaman kangkung, digunakan Insektisida Diazinon 60 EC, dengan dosis sebesar 2 cc per liter air dan disemprotkan pada tanaman.
Serangga pemakan daun dikendalikan dengan penyemprotan strategis senyawa organofosfat jauh sebelum pemanenan.
3.4.8. Pemeliharaan Lain
Agar pertumbuhan subur, sebaiknya seminggu setelah atau sebelum panen, tanaman dipupuk urea kembali.
3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1. Hama
Hama yang banyak menyerang tanaman kangkung umumnya relatif tidak ganas, antara lain: belalang dan ulat daun. Pengendalian: untuk mencegah terjadi over populasi, semprotkan Sevin atau sejenisnya. Untuk memberantas ulat daun ini digunakan Insektisida Diazinon 60 EC, dengan dosis sebesar 2 cc per liter air dan disemprotkan pada tanaman. Pada waktu membasmi hama, sebaiknya lahan dikeringkan terlebih dahulu selama 4-5 hari. Kemudian diairi kembali.
3.5.2. Penyakit
Tanaman kangkung tahan terhadap penyakit dan hanya memerlukan sedikit perlindungan.
Penyakit jamur yang lazim menyerang tanaman kangkung adalah karat putih (Albugo Ipomoea panduratae). Penyakit ini peka terhadap Dithane M-45 atau Benlate, tetapi bila benih diperlakukan dengan penyiraman dan higiene umumnya baik, penyakit tidak menjadi masalah. Serangga pemakan daun dikendalikan dengan penyemprotan strategis senyawa organofosfat jauh sebelum pemanenan.
3.6. Panen
3.6.1. Ciri dan Umur Panen
Panen pertama sudah bisa dilakukan pada hari ke 12. Saat ini kangkung sudah tumbuh dengan panjang batang kira-kira 20-25 cm. Ada pula yang mulai memangkas sesudah berumur 1,5 bulan dari saat penanaman.
3.6.2. Cara Panen
Cara pemanenan kangkung air hampir sama dengan kangkung darat. Cara memanen, pangkas batangnya dengan menyisakan sekitar 2-5 cm di atas permukaan tanah atau meninggalkan 2-3 buku tua. Panen dilakukan pada sore hari. Panenan dilakukan dengan cara memotong kangkung yang siap panen dengan ciri batang besar dan berdaun lebar.
Dengan menggunakan alat pemotong. Pemungutan hasil kangkung darat dapat pula dilakukan dengan cara mencabutnya sampai akar, kemudian dicuci dalam air. Panen kangkung darat dilakukan pada umur 27 hari. Selama panen, lahan penanaman harus tetap basah tapi tidak berair (lembab).
3.6.3. Periode Panen
Panen dilakukan 2-3 minggu sekali. Setiap kali habis panen, biasanya akan terbentuk cabang-cabang baru. Setelah 5 kali panen atau 10-11 kali panen maka produksi kangkung akan menurun baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Jika sudah terlihat berbunga, sisakan ± 2 m2 untuk dikembangkan terus menjadi biji yang kira-kira memakan waktu 40 hari sampai dapat dikeringkan.
3.6.4. Prakiraan Produksi
Pertanaman kangkung secara komersial menghasilkan sekitar 15 ton/ha sepanjang beberapa panenan berturut-turut atau sekitar 160 kg/tahun/10 m2.
3.7. Pascapanen
3.7.1. Pengumpulan
Kangkung yang baru dipanen dikumpulkan dan kemudian disatukan sebanyak 15-20 batang kangkung dalam satu ikatan.
3.7.2 Penyimpanan
Dalam penyimpanan (sebelum dipasarkan), agar tidak cepat layu, kangkung yang telah diikat celupkan dalam air tawar bersih dan tiriskan dengan menggunakan anjang-anjang.
Selengkapnya...
Minggu, 06 Juni 2010
| RESEP KUE |
Sabtu, 05 Juni 2010
7 Tips Mempertajam Otak ! |
7 kebiasaan yang bisa membuat daya ingat kita lebih kuat dan tahan lama. Kadang sangatlah sulit mengingat banyak hal di sekitar kita. Seringkali hal yang penting malah menjadi terbengkalai karena menurunnya daya ingat kita. Selain minum suplemen untuk menambah daya ingat, ada cara yang sangat mudah dan sederhana agar ingatan kita tetap kuat dan baik. Para peneliti Australia telah melakukan penelitian terhadap 29.500 orang yang punya daya ingat luar biasa, dan menemukan 7 kebiasaan yang bisa membuat daya ingat kita lebih kuat dan tahan lama. Para responden tersebut disebutkan memiliki daya ingat luar biasa karena mampu memutar ulang memori jangka panjang (mengingat apa yang terjadi secara baik hingga 20 tahun lalu), dan memori jangka pendek (mengingat apapun yang ada pada daftar belanjaan), hingga kemampuan mengingat wajah, nama, serta jabatan seseorang. Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan, rata-rata mereka memiliki kesamaan gaya hidup dan aktivitas. Inilah yang kemudian disimpulkan sebagai 7 kebiasaan untuk mengasah daya ingat, yaitu: 1. Tidak sama sekali mengonsumsi minuman beralkohol 2. Menonton siaran televisi kurang dari 1 jam per hari 3. Membaca novel 4. Mengisi teka-teki silang 5. Mengonsumsi ikan 6. Minum teh atau kopi 7. Memiliki dan tentunya menulis buku harian Mudah dan sederhanakan? Mari kita coba 7 kebiasaan ini agar daya ingat kita lebih kuat dan tahan lama. |

